0

Dariku yang menyayangimu

Parigi Moutong, Sulteng

Agustus 2015

sayang, yang kuat ya. Bunda sedang bekerja. bukan kerja yang sekedar duduk-duduk saja, lebih dari itu kita sama-sama harus berjalan kesana kemari mengamati dan berpeluh keringat

Bukan juga daerah-daerah indah yang kita lihat, tapi lokasi-lokasi kumuh yang bau dan penuh ketidakteraturan. Lihatlah hidup begitu semerawut disana. Maka kita harus bersyukur atas apa yang kita punya saat ini, kita masih lebih baik dari mereka. Rasa syukur itu tidak ada batasnya

sayang, jadilah kelak anak yang tangguh, hidup selalu punya ujian yang tidak selalu mudah, ingatlah Allah selalu, dengan begitu kamu akan selalu tangguh. Ini survei bunda yang kedua bersama kamu, masih ingat kita juga berjalan berkilometer sejak pagi sampai malam menjelang di Garut Kota? Maafkan bunda, tapi bunda tau kamu kuat, kita sama-sama berjuang ya..Ini perjuangan yang bukan hanya untuk kita, tapi semoga bermanfaat untuk masyarakat disana.

Tumbuh besarlah dengan ketakwaan nak, hidup di dunia hanya sementara, selebihnya di akhirat yang masih rahasia, maka siapkan perbekalanmu nanti.

sayang, bukan hal mudah bagi bunda membawamu di dalam rahim, maka kelak jadilah anak yang baik budi dan berbakti,

sayang, bunda harus lanjut membuat laporan, sehat terus ya, besok kita naik pesawat pulang kerumah ya. Anak pintar.

Aku yang ingin menyayangimu sepenuh hatiku.

0

mamasa, tanah penuh dilema

ketika saya bilang mamasa, kamu pasti bertanya-tanya itu dimana?

ketika saya bilang baru saja dari mamasa pada orang-orang sulawesi kebanyakan bilang “saya saja belum pernah”

ketika saya bilang baru saja dari mamasa pada orang polewali mandar mereka bilang “aiihh, so lelah ya mba, jalanan buruk disana”

mamasa adalah sebuah kabupaten di provinsi sulawesi barat

kabupaten baru, hasil memerdekakan diri dari kabupaten polewali mamasa, sekarang dipecah dua menjadi kabupaten polewali mandar dan kabupaten mamasa

letaknya persis bersebelahan dengan tana toraja, destinasi wisata nan eksotis dan terkenal

tapi tahukan kalian? mamasa telah mengantongi SK kawasan destinasi wisata

ironi yang terjadi, kalian harus menempuh perjalanan 5-6 jam dari polewalimandar untuk sampai ke mamasa, padahal jaraknya kurang dari 100km, itu artinya kalian hanya bisa berkendara di kecepatan 10-20 km/jam. Mengapa? karena jalan yang ada kondisinya sangat mengenaskan, entah berapa puluh kilometer jalannya rusak, hanya beberapa kilometer yang bagus. tidak ada kendaraan umum, jika tidak membawa kendaraan umum boleh naik kendaraan seperti travel dari polewali mandar. Biayanya sekitar 75ribu

Jalanan dalam ibukota kabupaten terbilang mulus, tapi hampir seluruh jalan penghubung rusak parah dan berlumpur, beberapa tak kan sanggup dilewati mobil kecuali hartop (jeep). Dari mamasa anda bisa tembus ke tana toraja, naik hartop selama 2,5 jam dengan ongkos 80ribu, menikmati jalan berlumpur dan offroad terus. samapai di perbatasan tana toraja pemadangan lebih ironi lagi, sebab jalanan berlumpur akan berubah menjadi aspal nan mulus, hanya perlu 1,5 jam ke pusat kota di tana toraja

Tapi dengan semua kesulitan itu, siapa sangka beberapa turis asing sengaja datang, hari itu saya menginap di hotel tongkonan milik pak salmon, satu-satunya pemilik penginapan yang fasih berbahasa inggris sebab beliau adalah pensiunan karyawan pertamina, sudah melalang buana, tapi kembali ke kampung halamannya, sebetulnya beliau berasal dari nosu, kecamatan yang jauh lebih dingin dari mamasa. Nah jangan lupa membawa jaket, mamasa cukup dingin karena cukup tinggi.

Belum lama di hotel ada bule-bule yang akan berjalan kaki dari mamasa ke tana toraja, tour guide mereka bilang semoga mamasa tidak berkembang terlalu cepat, semoga indoma#ret dan al#amart tidak masuk ke mamasa, sebab dengan begitu mamasa akan kehilangan jati  diri alaminya yang justru menjadi daya tari turis asing

dimana daerah ini menawarkan eksotisme tanpa banyak polesan palsu disana sini semua masih alami, buat saya yang sedang mengerjakan penyusunan program pembangunan di mamasa, penyataan tadi menjadi begitu dilematis

Disaat masyarakat ingin maju, beberapa juga tak mau kehilangan keasliannya, saya setuju bilamana mamasa tetap alami, kita betulkan saja jalannya, permukimannya, tapi larang kapitalisme menginjakkan kakinya disana.

di lain waktu akan saya tulis lagi cerita cerita tentang mamasa, tanah penuh dilema ini.

0

mamasa, tanah penuh dilema

ketika saya bilang mamasa, kamu pasti bertanya-tanya itu dimana?

ketika saya bilang baru saja dari mamasa pada orang-orang sulawesi kebanyakan bilang “saya saja belum pernah”

ketika saya bilang baru saja dari mamasa pada orang polewali mandar mereka bilang “aiihh, so lelah ya mba, jalanan buruk disana”

mamasa adalah sebuah kabupaten di provinsi sulawesi barat

kabupaten baru, hasil memerdekakan diri dari kabupaten polewali mamasa, sekarang dipecah dua menjadi kabupaten polewali mandar dan kabupaten mamasa

letaknya persis bersebelahan dengan tana toraja, destinasi wisata nan eksotis dan terkenal

tapi tahukan kalian? mamasa telah mengantongi SK kawasan destinasi wisata

ironi yang terjadi, kalian harus menempuh perjalanan 5-6 jam dari polewalimandar untuk sampai ke mamasa, padahal jaraknya kurang dari 100km, itu artinya kalian hanya bisa berkendara di kecepatan 10-20 km/jam. Mengapa? karena jalan yang ada kondisinya sangat mengenaskan, entah berapa puluh kilometer jalannya rusak, hanya beberapa kilometer yang bagus. tidak ada kendaraan umum, jika tidak membawa kendaraan umum boleh naik kendaraan seperti travel dari polewali mandar. Biayanya sekitar 75ribu

Jalanan dalam ibukota kabupaten terbilang mulus, tapi hampir seluruh jalan penghubung rusak parah dan berlumpur, beberapa tak kan sanggup dilewati mobil kecuali hartop (jeep). Dari mamasa anda bisa tembus ke tana toraja, naik hartop selama 2,5 jam dengan ongkos 80ribu, menikmati jalan berlumpur dan offroad terus. samapai di perbatasan tana toraja pemadangan lebih ironi lagi, sebab jalanan berlumpur akan berubah menjadi aspal nan mulus, hanya perlu 1,5 jam ke pusat kota di tana toraja

Tapi dengan semua kesulitan itu, siapa sangka beberapa turis asing sengaja datang, hari itu saya menginap di hotel tongkonan milik pak salmon, satu-satunya pemilik penginapan yang fasih berbahasa inggris sebab beliau adalah pensiunan karyawan pertamina, sudah melalang buana, tapi kembali ke kampung halamannya, sebetulnya beliau berasal dari nosu, kecamatan yang jauh lebih dingin dari mamasa. Nah jangan lupa membawa jaket, mamasa cukup dingin karena cukup tinggi.

Belum lama di hotel ada bule-bule yang akan berjalan kaki dari mamasa ke tana toraja, tour guide mereka bilang semoga mamasa tidak berkembang terlalu cepat, semoga indoma#ret dan al#amart tidak masuk ke mamasa, sebab dengan begitu mamasa akan kehilangan jati  diri alaminya yang justru menjadi daya tari turis asing

dimana daerah ini menawarkan eksotisme tanpa banyak polesan palsu disana sini semua masih alami, buat saya yang sedang mengerjakan penyusunan program pembangunan di mamasa, penyataan tadi menjadi begitu dilematis

Disaat masyarakat ingin maju, beberapa juga tak mau kehilangan keasliannya, saya setuju bilamana mamasa tetap alami, kita betulkan saja jalannya, permukimannya, tapi larang kapitalisme menginjakkan kakinya disana.

di lain waktu akan saya tulis lagi cerita cerita tentang mamasa, tanah penuh dilema ini.

0

ilusi

saya mendengar

suara suara di kejauhan

entah itu gumam atau itu panggilan

saya merindukan

banyak percakapan yang terlewatkan

ketika saya pergi meninggalkan

suara suara tanpa sumber

bayangan tanpa kejelasan

ilusi dalam buaian.

mungkin selamanya akan tetap menjadi ilusi

tapi biarkan kali ini saya tenggelam dalam ilusi yang sama

0

melanjutkan kerinduan

ini saya dan zheng, yang sadang mengajak jalan keliling kampus entah apa maksudnya, yang ambil foto ini nindy, katanya biar seolah2 saya lagi ngedate sama zheng.. hahaha

ini saya dan zheng, yang sadang mengajak jalan keliling kampus entah apa maksudnya, yang ambil foto ini nindy, katanya biar seolah2 saya lagi ngedate sama zheng.. hahaha

ini saya sama firda, ga tau di lapangan apa namanya, lagi menikmati hari-hari terakhir sebelum pulang ke indonesia

ini saya sama firda, ga tau di lapangan apa namanya, lagi menikmati hari-hari terakhir sebelum pulang ke indonesia

 

nama inggrisnya light..karna nama china nya akan berati cahaya dari fajar.. lelaki kesukaannya nindi, dan boleh jadi nindi benar, karna menurut saya dia seorang yang hemble, rendah hati dan kebapakan, seharusnya nindi mencari yang seperti dia di indonesia

nama inggrisnya light..karna nama china nya akan berati cahaya dari fajar..
lelaki kesukaannya nindi, dan boleh jadi nindi benar, karna menurut saya dia seorang yang humble, rendah hati dan kebapakan, seharusnya nindi mencari yang seperti dia di indonesia

 

ini zhang dan chai laoshi, lucu kelakuan mereka, ga beda jauh sama mahasiswanya

ini zhang dan chai laoshi, lucu kelakuan mereka, ga beda jauh sama mahasiswanya

 

0

kenangan dari halaman 43 titik nol

belakangan ini saya terjebak

di rutinitas malam

rasa kantuk seolah hilang

esoknya lalu bangun kesiangan

tapi tak mengapa, sudah tidak ada rutinitas harus datang jam 8 pagi dan pulang jam 5 sore

pekerjaan di depan laptop malam ini masih berjejer panjang, berhalaman halaman laporan tak kunjung usai, data yang kurang membuat tugas mengarang laporan semakin sulit. satu satunya pelarian yang baru saya beli dari toko buku adalah sebuah catatan perjalanan seorang agustinus wibowo, titik nol.. seminggu lalu yang menyibukan saya di toko buku adalah buku ini, entah kenapa di taro di rak buku yang tidak jelas klasifikasinya

saya belum sampai dimana mana, baru halaman 43, dan jika dibandingkan dengan perjalanan mas agustinus, perjalanan saya juga belum sampai dimana-mana..baru disitu situ aja..

beberapa kali di buku ini menulis beijing, saya teringat beijing

mungkin bukan beijing, saya teringat qingdao.. dan proses perjalanan menuju beijing

tidak bisa berbahasa cina, tidak tau  harus menginap dimana..saya bertekad akan tetap sampai di beijing, mungkin teman-teman yang lain tidak tau kepuasannya, karena mereka hanya menerima tiket sudah di tangan , ittenary sudah lengkap, dan seolah santai karna semua sudah diatur..oleh saya..haha..

tapi bukan itu, sore itu angin masih berhembus dingin di qingdao, andy bertanya apakah saya bisa naik sepeda? tentu, kata saya..

andy mau berbaik hati mengantar ke agen tiket, kami tidak perlu ke stasiun yang jaraknya cukup jauh, oke saya pikir pasti agennya tidak terlalu jauh..

saya lalu bersepeda bersama andy, masing masing menyewa sepeda, hanya 2 RMB, lebih murah dibanding saya dan andy harus naik semacam bajaj dari beimen *pintu belakang kampus

ternyata agennya jauh, dari mengayuh penuh semangat, sampai kaki terasa kaku, ya disana dingin..mana mungkin tidak terasa kaku?andy bertanya pada saya sambil berteriak di jalan yang sepi mobil itu..apakah saya masih kuat mengayuh? ya, tapi kamu tunggu saya ya..saya menyahut andy..andy tertawa dari jauh, dan tentu saja dia tidak menunggu saya

awalnya saya pikir anak anak disini aneh, tak tau sopan santun, tidak pernah bilang terimakasih, tidak pernah ada basa basi.. tapi toh saya salah, mereka memang cuek, tapi tak akan diam jika dibutuhkan

malam ini saya sadar, mungkin saya dan teman teman lain sampai di tujuan yang sama, sama sama sampai di beijing, tapi apa yang saya dapat mungkin lebih, di balik lelah mengayuh sepedah demi tiket kereta, ada senyum dan angin dingin di samping kuping yang masih bisa saya rasakan, di balik indahnya perjalanan dengan bullet train, ada bibir pecah-pecah ketika berlarian mencari informasi di stasiun..di balik semua kesenangan, saya tau proses panjang dan sulit yang saya lalui,saya tidak terima jadi.

saya akan kembali dulu ke titik nol.

selamat malam

ini andy meminta saya foto berdua saat kami wisata ke laoshan..

ini andy meminta saya foto berdua saat kami wisata ke laoshan..sayang saya tidak sempat berfoto saya kita bersepedah ria